Gunung Penanggungan

Gunung penanggunganGunung Penanggungan (ketinggian 1.653 meter di atas permukaan laut) merupakan sebuah gunung yang terdapat di Pulau Jawa, Indonesia.Letak gunung berapi tidur ini ini berada di dua kabupaten, yaitu Kabupaten Mojokerto dan Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, berjarak kurang lebih 25 km dari Surabaya. Gunung Penanggungan berada pada satu kluster dengan Gunung Arjuno dan Gunung Welirang.Gunung ini dikenal memiliki nilai sejarah tinggi karena di sekujur lerengnya ditemui berbagai peninggalan purbakala, baik candi, pertapaan, maupun petirtaan dari periode Hindu-Buddha di Jawa Timur. Di masa itu ia dikenal sebagai Gunung Pawitra.

Gunung ini dikelilingi 4 gunung yang lebih kecil yaitu Gunung Gajah Mungkur ( 1.084 m ), Gunung Bekel ( 1.240 m ), Gunung Sarahklopo ( 1.235 m ), dan Gunung Kemuncup ( 1.238 m ). Dari atas Gunung Penanggungan ini jika pendakian dilakukan pada malam hari kita bisa melihat matahari terbit, kira – kira berangkat pukul 22.00 atau 23.00 WIB, istirahat sebentar sambil menunggu matahari terbit. Untuk mencapai puncak gunung kita bisa melewati 2 jalur utama, lewat Trawas / Desa Duyung dan lewatcandi Jolotundo / Desa seloliman. 
Umumnya para pendaki lewat jalur Trawas / Duyung, Karena akses transportasi lebih mudah. Dengan mobil L300 bisa mencapai dekat kaki gunung atau mobil itu berhenti di pasar Tamiajeng, dan para pendaki bisa jalan kaki. Kelebihan melewati jalur ini, bisa melihat pemandangan baik itu perumahan ( Vila ) yang banyak terdapat di daerah Trawas dan Pacet, serta bisa melihat puncak gunung yang lain seperti Gunung Welirang dan Gunung Arjuno.
Dari jalur ini bisa melihat keindahan kota Surabaya di malam hari. Sayangnya jalur ini sudah sangat terbuka, dengan adanya aktivitas petani menanam tanaman musiman, seperti cabe, jagung dan lain – lain, sehingga tingkat erosi tanah tinggi, yang mengakibatkan erosi tanah berbentuk parit – parit yang cukup dalam hingga 50 cm. Perjalanan yang dilakukan pada malam hari, harus ektra hati – hati agar tidak terperosok ke dalam parit – parit tersebut.
Jalur ini lebih panjang dibandingkan melalui jalur Candi Jolotundo, tetapi tanjakan tidak terlalu tajam. Mendekati puncak, akan menemui padang alang – alang yang cukup tinggi, hingga setinggi manusia ( kira – kira 170 cm ). Melewati jalur ini tidak menemui candi – candi. Sedangkan jika melalui jalur Candi Jolotundo, selama perjalanan kita tidak bisa melihat keindahan kota karena tertutup dengan Gunung Bekel dan Gunung Gajah Mungkur. Yang ditemukan hanya pohon – pohon yang masih tersisa akibat penebangan liar dan kebakaran ( biasanya terjadi pada musim kemarau ) dan tanaman yang ditanam penduduk.
Keistimewaan melewati jalur ini, kita akan banyak menemui candi – candi. Candi itu sudah ada namanya, seperti candi Lurah, candi Guru, candi Gentong, candi Carik, dan beberapa candi yang tersembunyi, yang tidak ditemui pada jalur itu seperti candi Bayidan ada juga Terakota ( bangunan candi yang telah tertimbun tanah ).
Pada batu – batu candi masih meninggalkan relief – relief yang berupa gambar atau tulisan. Umumnya berupa gambar seperti gambar kelopak bunga. Sepanjang perjalanan hingga puncak gunung, tidak ditemui sumber air. Jadi para pendaki sudah menyiapkan air yang banyak dalam perjalannya. Jika melalui jalur candi Jolotundo, biasanya pendaki mengambil air di candi tersebut. Jalur ini, lebih pendek dibandingkan jalur Trawas / Duyung, tetapijalur pendakian lebih banyak menanjak.
Pendakian dipagi hari, disepanjang perjalanan bisa menemui banyak aktivitas petani di hutan. Baik yang mengelola lahan hutan atau yang mencari tanaman kaliandra untuk makanan ternak. Karena kondisi gunung ini sudah sangat terbuka, sepanjang perjalanan hanya sedikit pohon besar yang bisa menaungi.
Ketika mendekati puncak, tanah mulai berbatu. Tidak banyak satwa yang bisa dijumpai. Ini pengaruh dari pembukaan hutan dan juga kebakaran hutan. Kera yang biasanya banyak, sekarang sudah berkurang, pindah ke gunung bekel yang bersebelahan denganGunung penanggungan. Satwa yang masih bisa banyak ditemui di Gunung Penanggungan adalah burung.
Transportasi
Transportasi menuju Gunung Penanggungan, dengan kendaraan umum sangat mudah. Jika berasal dari Malang, mengambil bis jurusan Malang – Surabaya, dan berhenti di Pandaan. DariPandaan naik mobil L300 ke Trawas dan berhenti di Ps. Tamiajeng. Jika banyak para pendaki yang menuju ke G. Penanggungan, biasanya mobil bersedia mengantar hingga Desa Duyung. Tetapi biasanya mobil akan berhenti di Pasar Tamiajeng. Dari sana berjalan kaki menuju Desa Duyung.
Sebaiknya dari Pandaan tidak terlalu sore, karena kadang mobil sudah tidak ada. Diatas pukul 18.00 WIB mobil sudah sangat jarang, atau kadang sudah tidak ada. Untuk para pendaki yang berasal dari Surabaya, mengambil bis jurusan Surabaya – Malang dan berhenti di Pandaan. Lalu naik mobil L300 menuju Trawas. Sedang jika ingin melalui Candi Jolotundo, dari pasar Tamiajeng berjalan kaki kira – kira 2 jam ( dengan jalan santai ) atau naik ojek dari Pasar. Atau dari Surabaya, mengambil bis jurusan Surabaya – Malang, berhenti di Japanan. Dari Japanan, naik bis lebih kecil berwarna kuning menuju Mojokerto dan berhenti di Ngoro Industri. Dari Ngoro Industri naik ojek ke Candi Jolotundo atau desa Seloliman.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>